Aku ingat malam-malam itu. Malam yang tak ada bedanya dengan
malam-malam sebelumnya. Setiap aku terbaring menatap langit-langit kamar dengan
sedikit cahaya, wajahmu yang terakhir kuingat.
Kita selalu berpapasan saat
jam istirahat hampir berakhir. Aku berjalan ke arahmu tanpa menatapmu, karena
takut kamu balik menatapku. Takut kamu malah melihat jauh ke dalam tatapanku.
Ketakutanku tak masuk akal karena aku
tahu hal lain akan terjadi.
Kamu berjalan melewatiku.
Tanpa menoleh. Sedikitpun.
Kita memang tak saling
mengenal. Jadi hal seperti itu memang sudah sewajarnya terjadi. Lagipula siapa
aku?
Hari-hariku selalu berlalu
seperti itu. Tak jauh-jauh dari melihatmu tapi kamu tidak melihatku. Rasanya
memang sedikit mengecewakan. Karena kamu tak pernah benar-benar melihatku. Tapi
lagi-lagi aku berpikir, “Memangnya siapa aku?”
Aku cuma pengagummu, satu dari
sekian banyak orang yang mengagumimu di sekolah. Bisa mengingat deretan gigimu
saat tersenyum saja aku sudah senang. Apalagi mendengar suaramu saat sedang
mengobrol dengan orang lain.
Sekali saja dalam sehari aku
bisa melihatmu, aku rasa mimpiku tiap malam tak akan berakhir buruk.
***
Mereka bilang kamu akan pergi.
Aku tak percaya itu sampai aku
mendengarmu mengatakannya sendiri.
Hari itu aku lihat kamu duduk
bersama teman akrabmu di depan kelasmu. Kalian saling bercanda akan kepergianmu
dua hari lagi.
Baru aku yakin kalau mereka
tidak sedang bercanda.
Kamu benar-benar akan pergi.
***
Hari aku mendengar kabar itu adalah hari terburuk kedua
setelah aku kehilangan seorang ibu.
Kamu adalah satu-satunya yang
bisa membuatku tertidur dengan senyuman. Tapi hari ini adalah hari terakhirku
bisa tidur dengan nyenyak. Selebihnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Mungkin mimpi buruk sebelum kita bertemu akan kembali lagi.
Mimpi yang selalu muncul
semenjak ibuku pergi.
Aku masih ingat terakhir kali aku melihatmu. Waktu itu kamu
keluyuran saat jam pelajaran berlangsung. Kamu kesana kemari dan aku penasaran
ada apa.
Tapi rasanya aku tidak bisa
menunggu jam istirahat tiba untuk bisa melihatmu hari itu. Kuputuskan untuk bolos
pelajaran favoritku.
Tak pernah sekalipun aku melihatmu pergi ke perpustakaan.
Hari itu aku melihatmu duduk di bawah bersandar rak buku. Kulangkahkan kakiku
ke arahmu dan mengambil asal buku ensiklopedia dan duduk di depanmu.
Maksudku aku duduk lima meter
di depanmu. Cukup dekat untuk memandangimu.
Kamu tak berkata sepatah katapun. Mungkin karena kamu
sedang sendirian. Keinginanku hari itu benar-benar tak bisa kubendung. Aku
ingin bicara padamu. Hanya sekedar menyapa atau basa-basi saja.
Tapi nyaliku tak sebesar itu.
Nyaliku hanya cukup untuk memandangimu saja. Dari kejauhan.
Tapi
tiba-tiba aku tak bisa melihat wajahmu. Kamu memegang bukumu terlalu tinggi.
Tolong, turunkan sedikit
bukumu. Biarkan aku mengingat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak
tahu kapan takdir akan mengizinkanku untuk melihatmu lagi. Mungkin hari ini
benar-benar hari terakhirku melihatmu. Karena aku tidak punya keyakinan takdir
akan mempertemukan kita lagi.
Tiga puluh menit berlalu lalu
seolah-olah kamu mendengar suara dalam kepalaku, bukumu tak lagi menutupi
wajahmu. Dan aku kembali melihat wajahmu.
Tanpa sadar wajahku terasa
hangat. Ada air yang mengalir di pipiku begitu hangat. Awalnya hanya setetes
tapi entah bagaimana aku menangis begitu deras. Aku mati-matian menahan
isakanku dengan menunduk dan menutupi kepalaku dengan buku tebal itu. Tanpa
bisa menahan gerakan punggungku yang naik turun karena tangisan ini.
Apa yang terjadi selanjutnya benar-benar tak pernah
terbayangkan. Mungkin pernah sekilas terpikirkan, tapi aku yang pesimis selalu
menepis angan tak masuk akal itu.
Suara langkah kaki mendekat ke
arahku dan terdengar seseorang berkata “Kamu nggak papa? Sakit? Atau ada yang
bisa aku bantu?” Itu suaramu.
Tanpa menjawab pertanyaanya,
air mataku turun semakin deras. Aku tak akan sanggup menjawabnya, apalagi
mengangkat wajahku untuk menatapnya. Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali.
Selebihnya aku tak tahu apa
yang kamu katakan karena mata, kepala dan dadaku bekerja dengan sangat keras. Mataku
terus membasahi wajahku. Kepalaku sibuk mencerna pertanyaanmu. Dan dadaku
bergetar terlalu kencang mendengar suaramu.
Keinginanku terkabulkan dalam
satu hari. Memandangmu dari dekat dan mendengar suaramu, yang kamu tujukan
padaku. Bukan suara dari percakapanmu dengan orang lain yang tak sengaja
kudengar.
Because
you look like a movie. Hanya
dengan memandangmu, aku bisa tersenyum dan menangis bersamaan.
And
because you sound like a song. Karena
dengan mendengarmu saja aku rasa aku bisa menikmati hidup, merasa tenang, sedih
dan berdebar hebat di waktu yang sama.
Sekarang, lima belas tahun
berlalu sejak terkahir kali aku melihatmu, hatiku tak pernah berubah. Ia masih
berdebar hebat. Saat aku melihatmu tertawa bersama seorang wanita di sampingmu
dan seorang gadis kecil yang memiliki mata dan hidungmu.
Aku tersenyum. Ternyata takdir
masih mengizinkan kita untuk bertemu. Lagi-lagi bertemu hanya untuk memandangmu
dari kejauhan.
PS:You can also read this fiction at Wattpad with the same title by Anemonestar