Wednesday, 19 July 2017

You Look Like A Movie



 

          Aku ingat malam-malam itu. Malam yang tak ada bedanya dengan malam-malam sebelumnya. Setiap aku terbaring menatap langit-langit kamar dengan sedikit cahaya, wajahmu yang terakhir kuingat.
Kita selalu berpapasan saat jam istirahat hampir berakhir. Aku berjalan ke arahmu tanpa menatapmu, karena takut kamu balik menatapku. Takut kamu malah melihat jauh ke dalam tatapanku. Ketakutanku tak  masuk akal karena aku tahu hal lain akan terjadi.
Kamu berjalan melewatiku. Tanpa menoleh. Sedikitpun.
Kita memang tak saling mengenal. Jadi hal seperti itu memang sudah sewajarnya terjadi. Lagipula siapa aku?
Hari-hariku selalu berlalu seperti itu. Tak jauh-jauh dari melihatmu tapi kamu tidak melihatku. Rasanya memang sedikit mengecewakan. Karena kamu tak pernah benar-benar melihatku. Tapi lagi-lagi aku berpikir, “Memangnya siapa aku?”
Aku cuma pengagummu, satu dari sekian banyak orang yang mengagumimu di sekolah. Bisa mengingat deretan gigimu saat tersenyum saja aku sudah senang. Apalagi mendengar suaramu saat sedang mengobrol dengan orang lain.
Sekali saja dalam sehari aku bisa melihatmu, aku rasa mimpiku tiap malam tak akan berakhir buruk.

***
          Mereka bilang kamu akan pergi.
Aku tak percaya itu sampai aku mendengarmu mengatakannya sendiri.
Hari itu aku lihat kamu duduk bersama teman akrabmu di depan kelasmu. Kalian saling bercanda akan kepergianmu dua hari lagi.
Baru aku yakin kalau mereka tidak sedang bercanda.
Kamu benar-benar akan pergi.
***
          Hari aku mendengar kabar itu adalah hari terburuk kedua setelah aku kehilangan seorang ibu.
Kamu adalah satu-satunya yang bisa membuatku tertidur dengan senyuman. Tapi hari ini adalah hari terakhirku bisa tidur dengan nyenyak. Selebihnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin mimpi buruk sebelum kita bertemu akan kembali lagi.
Mimpi yang selalu muncul semenjak ibuku pergi.
          Aku masih ingat terakhir kali aku melihatmu. Waktu itu kamu keluyuran saat jam pelajaran berlangsung. Kamu kesana kemari dan aku penasaran ada apa.
Tapi rasanya aku tidak bisa menunggu jam istirahat tiba untuk bisa melihatmu hari itu. Kuputuskan untuk bolos pelajaran favoritku.
          Tak pernah sekalipun aku melihatmu pergi ke perpustakaan. Hari itu aku melihatmu duduk di bawah bersandar rak buku. Kulangkahkan kakiku ke arahmu dan mengambil asal buku ensiklopedia dan duduk di depanmu.
Maksudku aku duduk lima meter di depanmu. Cukup dekat untuk memandangimu.

          Kamu tak berkata sepatah katapun. Mungkin karena kamu sedang sendirian. Keinginanku hari itu benar-benar tak bisa kubendung. Aku ingin bicara padamu. Hanya sekedar menyapa atau basa-basi saja.
Tapi nyaliku tak sebesar itu. Nyaliku hanya cukup untuk memandangimu saja. Dari kejauhan.
          Tapi tiba-tiba aku tak bisa melihat wajahmu. Kamu memegang bukumu terlalu tinggi.
Tolong, turunkan sedikit bukumu. Biarkan aku mengingat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak tahu kapan takdir akan mengizinkanku untuk melihatmu lagi. Mungkin hari ini benar-benar hari terakhirku melihatmu. Karena aku tidak punya keyakinan takdir akan mempertemukan kita lagi.
Tiga puluh menit berlalu lalu seolah-olah kamu mendengar suara dalam kepalaku, bukumu tak lagi menutupi wajahmu. Dan aku kembali melihat wajahmu.
Tanpa sadar wajahku terasa hangat. Ada air yang mengalir di pipiku begitu hangat. Awalnya hanya setetes tapi entah bagaimana aku menangis begitu deras. Aku mati-matian menahan isakanku dengan menunduk dan menutupi kepalaku dengan buku tebal itu. Tanpa bisa menahan gerakan punggungku yang naik turun karena tangisan ini.
          Apa yang terjadi selanjutnya benar-benar tak pernah terbayangkan. Mungkin pernah sekilas terpikirkan, tapi aku yang pesimis selalu menepis angan tak masuk akal itu.
Suara langkah kaki mendekat ke arahku dan terdengar seseorang berkata “Kamu nggak papa? Sakit? Atau ada yang bisa aku bantu?” Itu suaramu.
Tanpa menjawab pertanyaanya, air mataku turun semakin deras. Aku tak akan sanggup menjawabnya, apalagi mengangkat wajahku untuk menatapnya. Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali.
Selebihnya aku tak tahu apa yang kamu katakan karena mata, kepala dan dadaku bekerja dengan sangat keras. Mataku terus membasahi wajahku. Kepalaku sibuk mencerna pertanyaanmu. Dan dadaku bergetar terlalu kencang mendengar suaramu.
Keinginanku terkabulkan dalam satu hari. Memandangmu dari dekat dan mendengar suaramu, yang kamu tujukan padaku. Bukan suara dari percakapanmu dengan orang lain yang tak sengaja kudengar.
Because you look like a movie. Hanya dengan memandangmu, aku bisa tersenyum dan menangis bersamaan.
And because you sound like a song. Karena dengan mendengarmu saja aku rasa aku bisa menikmati hidup, merasa tenang, sedih dan berdebar hebat di waktu yang sama.

Sekarang, lima belas tahun berlalu sejak terkahir kali aku melihatmu, hatiku tak pernah berubah. Ia masih berdebar hebat. Saat aku melihatmu tertawa bersama seorang wanita di sampingmu dan seorang gadis kecil yang memiliki mata dan hidungmu.
Aku tersenyum. Ternyata takdir masih mengizinkan kita untuk bertemu. Lagi-lagi bertemu hanya untuk memandangmu dari kejauhan.




PS:You can also read this fiction at Wattpad with the same title by Anemonestar

No comments:

Post a Comment